Mengenal Hukum di Indonesia Dari Berbagai Sudut Pandang Berita

Sejak memploklamirkan diri sebagai negara yang merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan diri sebagai negara dengan menganut paham Negara yang berdasarkan hukum. Hal ini tercermin dalam pasal 1 ayat 3 Undang- Undang dasar 1945 hasil amandemen yang berbunyi “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Tentunya gagasan Negara Hukum yang dianut oleh Indonesia  bukanlah tanpa sebab. Disini berkaitan erat dengan tujuan dan cita luhur pada pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia menjadi negara yang berkeadilan dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam musyawarah Nasional III Persahi pada Bulan Desember 1966 di Jakarta, para sarjana hukum Indonesia telah menyepakati sifat dan ciri-ciri dari negara hukum Indonesia. Terkait sifatnya, Negara Hukum mempunyai sifat yaitu pembatasan dalam bertindak para alat perlengkapan negara yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pembatan bertindak ini dimaksudkan agar tindakan kesewenag-wenangan oleh alat perlengkapan negara dapat dihindarkan.

Ciri Negara Hukum

Sedangkan pada ciri negara hukum sendiri, para Sarjana menyepakati 3 ciri negara hukum sebagai berikut:

  1. Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia yang mengandung persamaan di bidang politik, hukum, ekonomi, dan kebudayaan.
  2. Peradilan yang bebas dan tidak memihak serta tidak dipengaruhi oleh sesuatu kekuasaan atau kekuatan apapun
  3. Legalitas dalam segala bentuknya.

Berdasarkan sifat dan ciri-ciri dari negara hukum, pada saat ini, keadaan hukum di Indonesia sangatlah tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh para sarjana. Praktek kewewenag-wenangan para penyelenggara negara sudah tak asing lagi di Negara ini, terbukti dengan maraknya praktek KKN oleh pejabat sebagai penyelenggara negara.

Berbagai Bukti Soal Hukum Dalam Berita Hari Ini

Bukti lain tidak relevannya situasi bernegara saat ini dengan konsep negara hukum adalah praktek keadilan yang tak lagi indepeden. Seperti halnya hakim yang mudah menjual keputusan, aparat peegak hukum yang gambang disuap, dan lain sebagainya, mencerminkan wajah berhukum di Indonesia sangatlah buram. Sehingga hukum yang hakikatnya bertujuan untuk menjamin kepastian, kemanfaatan dan keadilan berubah menjadi hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Keadilan, kepastian dan kemanfaatan hukum hanya dapat dirasakan oleh para elit dan borjuis saja. Sedangkan bagi para si miskin dan si papa hukum hanyalah senjata yang menakutkan dan sewaktu-waktu dapat menggambil kemerdekaannya.

Dengan berbagai fenomena yang terjadi saat ini di indonesia semakin mencerminkan penegakan hukum di Indonesia mengalami kebobrokan fungsi. Pengadilan yang sejatinya sebagai penyelesai masalah tak menjalankan fungsi dan kewenangannya secara utuh. Ia hanya sebagai  pemuas hasrat kalangan elit untuk mengkriminalisasi  si papa.

Pada kasus  nenek Minah misalnya, nenek renta ini mendapatkan ganjaran pidana setelah menjalani berbagai proses peradilan dengan dakwaah melakukan pencurian 3 butir kakao yang nilainya tak seberapa di perkebunan dekat ladangnya. Coba bandingkan dengan ganjaran pidana yang diterima oleh mafia koruptor yang mengambil uang negara bermilyar-milyar, pengadilan hanya memutus beberapa tahun penjara saja.

Dengan demikian jika berita hari ini menyebutkan Indonesia sebagai negara, masih pantaskah?. Hanya anda sendirilah yang dapat menentukan jawabannya.

 

4 Fakta Negara Turki

Turki merupakan negara warisan kerajaan Turki Ustmani, atau yang biasa dikenal dengan nama Ottoman. Bangunan bersejarah, pemandangan alam, budaya, yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan lokal maupun interlokal. Turki memiliki masa lalu, yang bisa dibilang unik. Turki sendiri merupakan awal negara yang dibentuk kerajaan Romawi (konstantinopel), kemudian berganti nama pada masa kerajaan ottoman (Istambul). Turki menjadi saksi hidup dari kehidupan jaman dulu kerjaan besar dunia. Mengunjungi turki akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, tanpa banyak basa basi lagi, disini akan saya sampaikan 4 fakta negara Turki.

  1. Memiliki Pasar Tertua dan Terbesar di Dunia

Turki memiliki pasar yang luar biasa dan ikonik serta terkenal didunia. Nama temapt ini adalah Grand Bazaar. Pasar ini memiliki luas ribuan hektar serta lorong lorong yang banyak dan membingungkan. Ada sekitar 3000 toko, yang menjual berbagai pernak pernik khas turki. Pasar ini ada sejak tahun 1455 dan dibangun tak lama setelah kontrol ottoman konstantinopel.

  1. Santa Claus Berasal Dari Turki

Pada dasarnya mayoritas penduduk Turki adalah Islam. Beberapa daerah di Turki dikatakan sebagai tempat penting untuk perjalanan agama kristen. Salah satunya patara dimana ia mengatakan ini adalah tempat kelahiran saint nicholas atau santa claus. Selain itu, ia juga mengatakan jika suatu daerah di turki digunakan sebagai retret oleh perawan maria, tepatnya di ephesus.

  1. Bunga Tulip Adalah Turki Bukan Belanda

Sebagian besar dari kkita menganggap bunga tulip berasal dari Belanda. Ternyata bunga tulip sudah ditemukan sejak masa kerajaan Ottoman di abad ke 16. Kemudian Belanda menerima benih tulip yang dibawa oleh wakil Turki, salain itu Turki juga memperkenalkan kopi dan buah ceri ke dataran Eropa lainnya.

  1. Kapal Nabi Nuh diemukan di Turki

Selain umat Islam, ternyata yahudi dan nasrani pun mempercayai pada kisah Nabi Nuh beserta kisah Kapal raksasa bahtera. Selama bertahun tahun lamanya, peneliti mencari bukti kapal besar Nabi Nuh ini, dan sampai akhirnya mereka menemukan jejak kapal Nabi Nuh di gunung Ararat, Turki.

Perkiraan Berbagai Lembaga Survey Pilkada Jakarta 2017

Pemilihan Gubernur dan wakil gubernur Jakarta 2017 kini memasuki tahap kampanye. Ketiga pasangan yang sedang aktifnya berkampanye berusaha untuk menarik simpati warga. Selain melalui kampanye ketiga pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni, Ahok-Djarot, dan Anies-Sandiaga Uno juga berusaha meraih simpati warga melalui debat yang sudah berlangsung dua kali.

Dengan adanya hal tersebut berbagai lembagai survey sudah mengeluarkan berbagai survey untuk melihat elektabilitas masing-masing calon jelang pilkada Jakarta yang akan diselenggarakan pada tanggal 15 februari 2017. Survey dari berbagai lembaga ini hampir menggunakan metode yang sama. Meskipun hasilnya berbeda-beda.

Poltracking Indonesia

Lembaga survey Poltracking Indonesia mempunyai prediksi bahwa elektabilitas pasangan Agus-Sylvi unggul dari kedua pasangan lainnya yaitu sebesar 27,92%. Kemudian disusul dengan pasangan Ahok-Djarot sebesar 22,00%. Posisi terakhir dari segi elektabilitas, pasangan Anies-Sandi mendapatkan persentase sebesar 20.42%. Namun lembaga ini memiliki survey mengenai simulasi berlangsungya Pilkada Jakarta menghasilkan suara yang unggul untuk pasangan Agus-Sylvi sebesar 45.92%. kemudian di peringkat kedua Ahok-Djarot meraih suara sebesar 24,83%.

LSI Denny JA

Berbeda dari lembaga survey Poltracking Indonesia, lembaga survey Indonesia Denny JA menyimpulkan jika elektabilitas Ahok-Djarot berada di peringkat bawah yaitu sebesar 10,6 %. Kemudian lembaga ini juga memprediksi jika pasangan Ahok-Djarot kemungkinan besar akan tersingkir pada pemilihan Gubernur dan Calon gubernur Jakarta pada putaran pertama. Namun berbeda dengan pasangan Ahok-Djarot, pasangan Anies dan Sandi memperoleh persentase yang tinggi dari segi elektabilitas yaitu sebesar 31.90%. Kemudian di peringkat kedua disusul oleh pasangan Agus-Sylvi yaitu sebesar 30,90%.